Translate

Selasa, 20 Desember 2016

RS Sari Asih Ciledug

Selasa, 20 Desember 2016

Sekitar jam 2 siang kami memasuki ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kalau tidak salah, ini adalah kali ketiga kami "mengunjungi" tempat ini. Yang terakhir kali, bulan lalu. Saat itu anak pertama dan anak ketiga badannya panas tinggi. Karena khawatir ada sesuatu yang mengganggu kesehatan mereka, segera saja kubawa mereka ke rumkit ini meskipun waktu menunjukkan pukul 8 malam. Jadilah, malam itu yang seharusnya kami makan malam bersama merayakan ultah istri, kami "bertamasya" di rumkit.
Kali in, anak pertama kami kembali mengalami sakit di bagian perut. Sudah lama ia menderita penyakit maag. Menurut dokter sahabat kami maag nya sudah cukup akut. Kemari ia didampingi umminya berkonsultasi ke dokter tersebut. Setelah memberi obat maag dosis tinggi, sang dokter sahabat kami ini memberi saran agar apabila hingga esok hari masih terasa sakit, sebaiknya segera ke rumkit.
Siang ini anak kami merengek agar dibawa ke rumkit. Tidak hanya itu, ia minta agar dilakukan endoskopi. Apa itu endoskopi? Hmm...... silakan searching aja di google ya. Saya pun tidak tahu tentang istilah ini hehehe...

Saat kami masuk ke ruang tunggu IGD yang tidak besar itu, seperti biasanya, pasien cukup banyak. Kami pun diharuskan mendaftar terlebih dahulu di bagian pendaftaran pasien untuk mendapatkan layanan IGD.
Untungnya, di loket pendaftaran tidak terlalu padat. Hanya selang satu orang, aku pun sudah dilayani seorang laki muda petugas loket pendaftaran. Ia melayani dengan sangat ramah.
Berbeda dengan loket pendaftaran, di IGD kami harus menunggu cukup lama. Lebih dari setengah jam. Kulihat ada pasien seorang ibu paruh baya yang berbaring di atas tempat tidur yang ada di ruangan tersebut. Ia menunggu panggilan dari petugas IGD. Ada pula yang duduk di kursi roda dan sebagian lainnya duduk di bangku ruang tunggu.

Saat akhirnya nama anak kami dipanggil, aku dan anakku masuk ke dalam ruang IGD. Ada bunyi mesin detak jantung di sana. tit...tit....tit...tanpa henti. Wajah para perawat nampak lelah. Mungkin mereka sudah sejak pagi melayani puluhan pasien dengan berbagai keluhan. Seorang perawat laki-laki menanyakan keluhan yang dirasakan anak kami. Ia juga mengecek tensi darah serta bertanya beberapa hal sesuai dengan formulir yang ada di tangannya. Ia sedang menjalankan SOP.
Saya sempatkan untuk bertanya padanya, apakah dokter jaga hanya satu orang. Si perawat menjawab pelan, "iya". Saya lanjutkan celotehan saya, "soalnya di luar masih banyak pasien Mas. Kasian mereka menunggu lama". Tak ada komentar dari si perawat. Ia hanya melempar pandangan ke diri saya sekilas.

Setelah SOP dijalankan oleh si perawat, dokter jaga masih belum datang ke mejanya. Kami berdua, dibiarkan berdiam diri duduk di kursi yang dibatasi dengan meja dokter. Sempat muncul rasa kecewa pada diri saya. Mengapa pelayanan rumkit ini seperti ini? Biasanya mereka cepat bertindak!
Tak lama kemudian kegelisahan saya terjawab. Semua mobil ambulan bercat hitam siaga di luar di ujung mulut ruang IGD. Rupanya baru saja ada pasien IGD yang menghembuskan nafas terakhirnya. Akhirnya saya memaklumi mengapa sang dokter tidak muncul-muncul di hadapan kami.

Selasa, 22 Juli 2014

Kolam Ikan Dalam Rumah....

Sudah hampir satu bulan kami menambah anggota keluarga berupa sebuah kolam ikan di dalam rumah. Niat membuat kolam ini sudah cukup lama. Bahkan sejak rumah kami berdiri.
Alhamdulillah beberapa bulan lalu banyak job mengalir. Aku pun bisa mengumpulkan sedikit demi sedikit rupiah dari job tersebut untuk mewujudkan impian tersebut.
Saat kurasa uang yang kumiliki cukup, aku segera mengontak seorang sahabat lama yang berprofesi sebagai tukang taman dan kolam hias untuk membuat kolam tersebut.
Dengan semangat sahabat tersebut segera mendesainkannya. Dan saat kutanya berapa biayanya, ia hanya menjawab dalam ukuran per meter persegi. Sayangnya ia tidak mengatakan berapa meter persegi yang dibutuhkan dan aku pun juga tidak menanyakan hal tersebut.
Kupikir ia tahu lah untuk menentukan harga dalam hubungan sebagai sahabat!

Perlu waktu satu minggu untuk menyelesaikan pembuatan kolam sederhana ini. Bahan-bahannya relatif sederhana. Sehingga rasanya juga tidak akan mahal harganya. Begitu pikirku.
Ternyata aku keliru. Saat kolam selesai dan aku bertanya berapa yang harus ku bayar, sahabatku memberikan rincian luasan kolam dalam bentuk meter persegi yang membuat dahiku berkerut.
Ternyata biaya yang dibutuhkan melebihi dana yang telah kusiapkan! Nilainya dua kali lipat lebih dari yang kuduga!! Waow benar-benar sebuah "harga persahabatan"!!


Lantaran transaksi tersebut sudah deal maka tentu saja aku tidak bisa menghindar. Bukan tipeku untuk mengelak dari sebuah perjanjian. Akhirnya, dengan berat hati kubayar biaya tersebut dalam beberapa tahap. Ludes dech tabunganku!!!

Besarnya biaya tersebut telah kulupakan! Yang bisa kulakukan kini adalah menikmati apa yang telah menjadi impian ku. Dan kolam itu pun ku isi dengan 6 ekor ikan mas koki. Sayang baru sehari mereka berada di kolam tersebut seekor ikan mati akibat matinya listrik selama 8 jam!
Keesokkan harinya kubeli lagi 6 ekor ikan mas yang sama di toko langgananku. Kini ada 11 ekor ikan mungil yang masih malu-malu berenang di dalam kola tersebut.
Semoga engkau sehat-sehat dan segera tumbuh besar wahai ikan!

Senin, 14 April 2014

Setelah 8 bulan kemudian...

Senin, 14 April 2014

Delapan bulan sudah pohon pisang ini tertanam di pekarangan kami. Besarnya sudah berlipat kali. Bahkan di sisi kanan kirinya telah muncul anak-anak sang pohon. Cepat sekali rasanya ia membesar.
 Aku masih ingat saat menanamnya bersama temanku. Pohon tersebut masih sangat mungil. Duh, kini dah besar sekali....


Selain pohon pisang, pohon kelengkeng pun semakin terlihat subur. Meskipun ia tidak tinggi namun dari daunnya yang berwarna hijau segar, aku yakin bila pohon ia senang berada di tempatnya....


Pohon dollar kami pun juga semakin besar. Merambat ke atas di dinding rumah. Tingginya pun telah lebih dari satu meter.... keep growing will you.....