Translate
Minggu, 03 September 2017
Selasa, 20 Desember 2016
RS Sari Asih Ciledug
Selasa, 20 Desember 2016
Sekitar jam 2 siang kami memasuki ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kalau tidak salah, ini adalah kali ketiga kami "mengunjungi" tempat ini. Yang terakhir kali, bulan lalu. Saat itu anak pertama dan anak ketiga badannya panas tinggi. Karena khawatir ada sesuatu yang mengganggu kesehatan mereka, segera saja kubawa mereka ke rumkit ini meskipun waktu menunjukkan pukul 8 malam. Jadilah, malam itu yang seharusnya kami makan malam bersama merayakan ultah istri, kami "bertamasya" di rumkit.
Kali in, anak pertama kami kembali mengalami sakit di bagian perut. Sudah lama ia menderita penyakit maag. Menurut dokter sahabat kami maag nya sudah cukup akut. Kemari ia didampingi umminya berkonsultasi ke dokter tersebut. Setelah memberi obat maag dosis tinggi, sang dokter sahabat kami ini memberi saran agar apabila hingga esok hari masih terasa sakit, sebaiknya segera ke rumkit.
Siang ini anak kami merengek agar dibawa ke rumkit. Tidak hanya itu, ia minta agar dilakukan endoskopi. Apa itu endoskopi? Hmm...... silakan searching aja di google ya. Saya pun tidak tahu tentang istilah ini hehehe...
Saat kami masuk ke ruang tunggu IGD yang tidak besar itu, seperti biasanya, pasien cukup banyak. Kami pun diharuskan mendaftar terlebih dahulu di bagian pendaftaran pasien untuk mendapatkan layanan IGD.
Untungnya, di loket pendaftaran tidak terlalu padat. Hanya selang satu orang, aku pun sudah dilayani seorang laki muda petugas loket pendaftaran. Ia melayani dengan sangat ramah.
Berbeda dengan loket pendaftaran, di IGD kami harus menunggu cukup lama. Lebih dari setengah jam. Kulihat ada pasien seorang ibu paruh baya yang berbaring di atas tempat tidur yang ada di ruangan tersebut. Ia menunggu panggilan dari petugas IGD. Ada pula yang duduk di kursi roda dan sebagian lainnya duduk di bangku ruang tunggu.
Saat akhirnya nama anak kami dipanggil, aku dan anakku masuk ke dalam ruang IGD. Ada bunyi mesin detak jantung di sana. tit...tit....tit...tanpa henti. Wajah para perawat nampak lelah. Mungkin mereka sudah sejak pagi melayani puluhan pasien dengan berbagai keluhan. Seorang perawat laki-laki menanyakan keluhan yang dirasakan anak kami. Ia juga mengecek tensi darah serta bertanya beberapa hal sesuai dengan formulir yang ada di tangannya. Ia sedang menjalankan SOP.
Saya sempatkan untuk bertanya padanya, apakah dokter jaga hanya satu orang. Si perawat menjawab pelan, "iya". Saya lanjutkan celotehan saya, "soalnya di luar masih banyak pasien Mas. Kasian mereka menunggu lama". Tak ada komentar dari si perawat. Ia hanya melempar pandangan ke diri saya sekilas.
Setelah SOP dijalankan oleh si perawat, dokter jaga masih belum datang ke mejanya. Kami berdua, dibiarkan berdiam diri duduk di kursi yang dibatasi dengan meja dokter. Sempat muncul rasa kecewa pada diri saya. Mengapa pelayanan rumkit ini seperti ini? Biasanya mereka cepat bertindak!
Tak lama kemudian kegelisahan saya terjawab. Semua mobil ambulan bercat hitam siaga di luar di ujung mulut ruang IGD. Rupanya baru saja ada pasien IGD yang menghembuskan nafas terakhirnya. Akhirnya saya memaklumi mengapa sang dokter tidak muncul-muncul di hadapan kami.
Sekitar jam 2 siang kami memasuki ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kalau tidak salah, ini adalah kali ketiga kami "mengunjungi" tempat ini. Yang terakhir kali, bulan lalu. Saat itu anak pertama dan anak ketiga badannya panas tinggi. Karena khawatir ada sesuatu yang mengganggu kesehatan mereka, segera saja kubawa mereka ke rumkit ini meskipun waktu menunjukkan pukul 8 malam. Jadilah, malam itu yang seharusnya kami makan malam bersama merayakan ultah istri, kami "bertamasya" di rumkit.
Kali in, anak pertama kami kembali mengalami sakit di bagian perut. Sudah lama ia menderita penyakit maag. Menurut dokter sahabat kami maag nya sudah cukup akut. Kemari ia didampingi umminya berkonsultasi ke dokter tersebut. Setelah memberi obat maag dosis tinggi, sang dokter sahabat kami ini memberi saran agar apabila hingga esok hari masih terasa sakit, sebaiknya segera ke rumkit.
Siang ini anak kami merengek agar dibawa ke rumkit. Tidak hanya itu, ia minta agar dilakukan endoskopi. Apa itu endoskopi? Hmm...... silakan searching aja di google ya. Saya pun tidak tahu tentang istilah ini hehehe...
Saat kami masuk ke ruang tunggu IGD yang tidak besar itu, seperti biasanya, pasien cukup banyak. Kami pun diharuskan mendaftar terlebih dahulu di bagian pendaftaran pasien untuk mendapatkan layanan IGD.
Untungnya, di loket pendaftaran tidak terlalu padat. Hanya selang satu orang, aku pun sudah dilayani seorang laki muda petugas loket pendaftaran. Ia melayani dengan sangat ramah.
Berbeda dengan loket pendaftaran, di IGD kami harus menunggu cukup lama. Lebih dari setengah jam. Kulihat ada pasien seorang ibu paruh baya yang berbaring di atas tempat tidur yang ada di ruangan tersebut. Ia menunggu panggilan dari petugas IGD. Ada pula yang duduk di kursi roda dan sebagian lainnya duduk di bangku ruang tunggu.
Saat akhirnya nama anak kami dipanggil, aku dan anakku masuk ke dalam ruang IGD. Ada bunyi mesin detak jantung di sana. tit...tit....tit...tanpa henti. Wajah para perawat nampak lelah. Mungkin mereka sudah sejak pagi melayani puluhan pasien dengan berbagai keluhan. Seorang perawat laki-laki menanyakan keluhan yang dirasakan anak kami. Ia juga mengecek tensi darah serta bertanya beberapa hal sesuai dengan formulir yang ada di tangannya. Ia sedang menjalankan SOP.
Saya sempatkan untuk bertanya padanya, apakah dokter jaga hanya satu orang. Si perawat menjawab pelan, "iya". Saya lanjutkan celotehan saya, "soalnya di luar masih banyak pasien Mas. Kasian mereka menunggu lama". Tak ada komentar dari si perawat. Ia hanya melempar pandangan ke diri saya sekilas.
Setelah SOP dijalankan oleh si perawat, dokter jaga masih belum datang ke mejanya. Kami berdua, dibiarkan berdiam diri duduk di kursi yang dibatasi dengan meja dokter. Sempat muncul rasa kecewa pada diri saya. Mengapa pelayanan rumkit ini seperti ini? Biasanya mereka cepat bertindak!
Tak lama kemudian kegelisahan saya terjawab. Semua mobil ambulan bercat hitam siaga di luar di ujung mulut ruang IGD. Rupanya baru saja ada pasien IGD yang menghembuskan nafas terakhirnya. Akhirnya saya memaklumi mengapa sang dokter tidak muncul-muncul di hadapan kami.
Selasa, 22 Juli 2014
Kolam Ikan Dalam Rumah....
Sudah hampir satu bulan kami menambah anggota keluarga berupa sebuah kolam ikan di dalam rumah. Niat membuat kolam ini sudah cukup lama. Bahkan sejak rumah kami berdiri.
Alhamdulillah beberapa bulan lalu banyak job mengalir. Aku pun bisa mengumpulkan sedikit demi sedikit rupiah dari job tersebut untuk mewujudkan impian tersebut.
Saat kurasa uang yang kumiliki cukup, aku segera mengontak seorang sahabat lama yang berprofesi sebagai tukang taman dan kolam hias untuk membuat kolam tersebut.
Dengan semangat sahabat tersebut segera mendesainkannya. Dan saat kutanya berapa biayanya, ia hanya menjawab dalam ukuran per meter persegi. Sayangnya ia tidak mengatakan berapa meter persegi yang dibutuhkan dan aku pun juga tidak menanyakan hal tersebut.
Kupikir ia tahu lah untuk menentukan harga dalam hubungan sebagai sahabat!
Perlu waktu satu minggu untuk menyelesaikan pembuatan kolam sederhana ini. Bahan-bahannya relatif sederhana. Sehingga rasanya juga tidak akan mahal harganya. Begitu pikirku.
Ternyata aku keliru. Saat kolam selesai dan aku bertanya berapa yang harus ku bayar, sahabatku memberikan rincian luasan kolam dalam bentuk meter persegi yang membuat dahiku berkerut.
Ternyata biaya yang dibutuhkan melebihi dana yang telah kusiapkan! Nilainya dua kali lipat lebih dari yang kuduga!! Waow benar-benar sebuah "harga persahabatan"!!
Lantaran transaksi tersebut sudah deal maka tentu saja aku tidak bisa menghindar. Bukan tipeku untuk mengelak dari sebuah perjanjian. Akhirnya, dengan berat hati kubayar biaya tersebut dalam beberapa tahap. Ludes dech tabunganku!!!
Besarnya biaya tersebut telah kulupakan! Yang bisa kulakukan kini adalah menikmati apa yang telah menjadi impian ku. Dan kolam itu pun ku isi dengan 6 ekor ikan mas koki. Sayang baru sehari mereka berada di kolam tersebut seekor ikan mati akibat matinya listrik selama 8 jam!
Keesokkan harinya kubeli lagi 6 ekor ikan mas yang sama di toko langgananku. Kini ada 11 ekor ikan mungil yang masih malu-malu berenang di dalam kola tersebut.
Semoga engkau sehat-sehat dan segera tumbuh besar wahai ikan!
Sudah hampir satu bulan kami menambah anggota keluarga berupa sebuah kolam ikan di dalam rumah. Niat membuat kolam ini sudah cukup lama. Bahkan sejak rumah kami berdiri.
Alhamdulillah beberapa bulan lalu banyak job mengalir. Aku pun bisa mengumpulkan sedikit demi sedikit rupiah dari job tersebut untuk mewujudkan impian tersebut.
Saat kurasa uang yang kumiliki cukup, aku segera mengontak seorang sahabat lama yang berprofesi sebagai tukang taman dan kolam hias untuk membuat kolam tersebut.
Dengan semangat sahabat tersebut segera mendesainkannya. Dan saat kutanya berapa biayanya, ia hanya menjawab dalam ukuran per meter persegi. Sayangnya ia tidak mengatakan berapa meter persegi yang dibutuhkan dan aku pun juga tidak menanyakan hal tersebut.
Kupikir ia tahu lah untuk menentukan harga dalam hubungan sebagai sahabat!
Perlu waktu satu minggu untuk menyelesaikan pembuatan kolam sederhana ini. Bahan-bahannya relatif sederhana. Sehingga rasanya juga tidak akan mahal harganya. Begitu pikirku.
Ternyata aku keliru. Saat kolam selesai dan aku bertanya berapa yang harus ku bayar, sahabatku memberikan rincian luasan kolam dalam bentuk meter persegi yang membuat dahiku berkerut.
Ternyata biaya yang dibutuhkan melebihi dana yang telah kusiapkan! Nilainya dua kali lipat lebih dari yang kuduga!! Waow benar-benar sebuah "harga persahabatan"!!
Lantaran transaksi tersebut sudah deal maka tentu saja aku tidak bisa menghindar. Bukan tipeku untuk mengelak dari sebuah perjanjian. Akhirnya, dengan berat hati kubayar biaya tersebut dalam beberapa tahap. Ludes dech tabunganku!!!
Besarnya biaya tersebut telah kulupakan! Yang bisa kulakukan kini adalah menikmati apa yang telah menjadi impian ku. Dan kolam itu pun ku isi dengan 6 ekor ikan mas koki. Sayang baru sehari mereka berada di kolam tersebut seekor ikan mati akibat matinya listrik selama 8 jam!
Keesokkan harinya kubeli lagi 6 ekor ikan mas yang sama di toko langgananku. Kini ada 11 ekor ikan mungil yang masih malu-malu berenang di dalam kola tersebut.
Semoga engkau sehat-sehat dan segera tumbuh besar wahai ikan!
Senin, 14 April 2014
Setelah 8 bulan kemudian...
Senin, 14 April 2014
Delapan bulan sudah pohon pisang ini tertanam di pekarangan kami. Besarnya sudah berlipat kali. Bahkan di sisi kanan kirinya telah muncul anak-anak sang pohon. Cepat sekali rasanya ia membesar.
Aku masih ingat saat menanamnya bersama temanku. Pohon tersebut masih sangat mungil. Duh, kini dah besar sekali....
Selain pohon pisang, pohon kelengkeng pun semakin terlihat subur. Meskipun ia tidak tinggi namun dari daunnya yang berwarna hijau segar, aku yakin bila pohon ia senang berada di tempatnya....
Pohon dollar kami pun juga semakin besar. Merambat ke atas di dinding rumah. Tingginya pun telah lebih dari satu meter.... keep growing will you.....
Delapan bulan sudah pohon pisang ini tertanam di pekarangan kami. Besarnya sudah berlipat kali. Bahkan di sisi kanan kirinya telah muncul anak-anak sang pohon. Cepat sekali rasanya ia membesar.
Aku masih ingat saat menanamnya bersama temanku. Pohon tersebut masih sangat mungil. Duh, kini dah besar sekali....
Selain pohon pisang, pohon kelengkeng pun semakin terlihat subur. Meskipun ia tidak tinggi namun dari daunnya yang berwarna hijau segar, aku yakin bila pohon ia senang berada di tempatnya....
Pohon dollar kami pun juga semakin besar. Merambat ke atas di dinding rumah. Tingginya pun telah lebih dari satu meter.... keep growing will you.....
Selasa, 27 Agustus 2013
Berbuah.......
Entah sudah berapa kali pohon mangga yang memang sudah ada sejak awal di rumah kami ini berbuah. Di lihat dari postur dan kerut kulitnya, pohon ini telah berusia cukup tua. Paling tidak, perkiraanku, ia telah berumur lebih dari 20 tahun.
Bila buah mangga yang tidak kami ketahui jenisnya ini matang dari pohon, akan sangat manis rasanya. Sayang, kami harus berpacu dengan hewan lain, seperti codot dan hama, sehingga kami memanennya lebih awal. Setelah itu, biasanya kami masukkan dalam sebuah kardus. Dierami bak telur.Kami pernah melakukannya satu dua kali mengerami. Hasilnya tidak bergitu bagus. Ada bagian yang matang, setengah matang, dan ada bagian yang terlalu matang dan cenderung busuk.
Semoga panen kali ini, bisa jauh lebih baik rasanya....
Jumat, 16 Agustus 2013
"Keluarga" Baru di Kebun Kami
Hari ini, kami mendapat kiriman "keluarga" baru dari seorang teman, yaitu lima buah pohon pisang siap tanam. Jenisnya pun berbeda-beda. Sayangnya aku tidak hafal jenis-jenis mereka. Katanya sich ada yang jenis "kepok", "sereh", dan "nangka". Wah bener nggak nya, sekali lagi, aku dan istri nggak paham. Toh bagi kami, dengan adanya tanaman pisang di rumah kami saja sudah membuat kami senang.
Tiga pohon kami tanam di media pot sedangkan dua lainnya kami tanam di pekarangan rumah, di sela-sela tanaman lainnya. Penanaman di media pot adalah eksperimen kami. Kami ingin tahu seperti apa bila pohon pisang di tanam di media tanam dalam pot. Kami yakin sudah banyak orang yang melakukannya. Bagi kami, ini adalah yang pertama kali lakukan. Mari kita lihat hasilnya beberapa bulan kemudian....
Tiga pohon kami tanam di media pot sedangkan dua lainnya kami tanam di pekarangan rumah, di sela-sela tanaman lainnya. Penanaman di media pot adalah eksperimen kami. Kami ingin tahu seperti apa bila pohon pisang di tanam di media tanam dalam pot. Kami yakin sudah banyak orang yang melakukannya. Bagi kami, ini adalah yang pertama kali lakukan. Mari kita lihat hasilnya beberapa bulan kemudian....
Sabtu, 10 Agustus 2013
Gagal mencapai Lembang, Bandung
Sekitar pukul 9.30 pagi kami berangkat dari daerah Pondok Aren, Tangerang Selatan. Tujuannya adalah Lembang, Bandung. Niatnya, iseng-iseng jalan-jalan karena anak-anak dah pada bete di rumah terus, nggak pernah kemana-mana selain ke rumah mbahnya di Sunter, Jakarta Utara.
Perjalanan relatif lancar hingga mencapai rest area KM72 arah Bandung sebelum waktu dzuhur tiba. Setelah mengisi perut dengan makanan khas Sunda di warung Bu Haji Ciganea yang ada di rest area tersebut, kami pun segera menunaikan sholat dzuhur di masjid yang ada di seberang warung Bu Haji.
Sekitar pukul 12.30 kami melanjutkan perjalanan. Karena sasarannya adalah Lembang maka kami memilih jalur Subang. Alasannya: info di twiteer menyebutkan kalau jalanan di Bandung mulai padat oleh kendaraan. Dan jalan Sukajadi yang merupakan akses menuju Lembang dari arah Bandung telah sangat padat.
Hingga kota Subang jalanan relatif lancar. Namun setelah kota Subang, tepatnya di Jalan Raya Tambak, kondisi kendaraan mulai padat. Dan semakin menuju arah Lembang semakin padat bahkan cenderung tidak bergerak.
Setelah mencoba bersabar akhirnya kami menyerah setelah terlihat papan petunjuk jarak yang menyebutkan Lembang masih 17Km lagi!!!!! Gubraaak...........
Kami pun berbalik arah kembali ke Jakarta dengan perasaan kucewa....!
Perjalanan relatif lancar hingga mencapai rest area KM72 arah Bandung sebelum waktu dzuhur tiba. Setelah mengisi perut dengan makanan khas Sunda di warung Bu Haji Ciganea yang ada di rest area tersebut, kami pun segera menunaikan sholat dzuhur di masjid yang ada di seberang warung Bu Haji.
Sekitar pukul 12.30 kami melanjutkan perjalanan. Karena sasarannya adalah Lembang maka kami memilih jalur Subang. Alasannya: info di twiteer menyebutkan kalau jalanan di Bandung mulai padat oleh kendaraan. Dan jalan Sukajadi yang merupakan akses menuju Lembang dari arah Bandung telah sangat padat.
Hingga kota Subang jalanan relatif lancar. Namun setelah kota Subang, tepatnya di Jalan Raya Tambak, kondisi kendaraan mulai padat. Dan semakin menuju arah Lembang semakin padat bahkan cenderung tidak bergerak.
Setelah mencoba bersabar akhirnya kami menyerah setelah terlihat papan petunjuk jarak yang menyebutkan Lembang masih 17Km lagi!!!!! Gubraaak...........
Kami pun berbalik arah kembali ke Jakarta dengan perasaan kucewa....!
Kamis, 08 Agustus 2013
Puasa dan Lebaran 2013
Alhamdulillah kami kembali dipertemukan dengan bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan yang suci. Dan alhamdulillah satu bulan penuh berpuasa pun dapat kami jalani. Hanya di kecil saja yang sama sekali belum mampu berpuasa. Semoga tahun depan ia bisa bergabung dengan kami untuk ikut semampunya menjalankan ibadah puasa.... Amiin.... Dan semoga pula kami masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk dapat bertemu kembali dengan bulan puasa di tahun yang akan datang. Amiin Yaa Rabbal'alamiin....
Puasa tahun ini aku lebih banyak disibukkan dengan kegiatan kantor yang memerlukan waktu dan tenaga yang lumayan. Saking banyaknya pekerjaan (karena dikejar deadline) hampir 2 minggu berturut-turut aku berbuka puasa di kantor bersama teman-teman kantor. Bahkan tidak jarang aku pulang saat larut menjelang.
Sedangkan istri dan anak-anak ku lebih banyak menghabiskan waktu berpuasa di rumah. Sesekali mereka melakukan iktikaf bersama teman-temannya.
Lebaran tahun ini jatuh pada hari kamis, 8 Agustus 2013. Hampir semua golongan dalam agama kami merayakan pada hari yang sama. Tanggal tersebut sekaligus mengingatkan kami pada hari berpulangnya bapakku tercinta. Memang ia tidak wafat persis pada tanggal tersebut. Beliau meninggal dunia pada tanggal 6 Agustus 2006. Namun setiap masuk bulan Agustus, aku selalu teringat akan jasa-jasa beliau selama mendidik diriku. Dengan penuh ketelatenan dan sedikit "keras", beliaulah yang "memaksa" aku untuk menyenangi dunia hitung-menghitung yang akhirnya membuat aku menyukai matematika dan ilmu sepadan lainnya. Sungguh luar biasa perjuangan beliau!
Semoga Allah memberikan kelapangan dan keterangan kuburnya.... Dan semoga Allah memberikan tempat yang sangat layak di sana.... Amiin.....
Lebaran kali ini adalah lebaran pertama kami di rumah kami yang baru kami tempati sekitar 7 bulan. Meskipun dah selama itu kami tinggal di sini namun kami masih tidak mengenal banyak tetangga. Maklum lingkungan komplek rata-rata memang seperti itu. Kami hanya mengenal beberapa tetangga saja...
Oleh karenanya, saat kami selesai menunaikan sholat ied di masjid komplek, kami hanya menyambangi satu rumah saja yang berada di samping kiri kami. Tetangga yang sebenarnya lebih akrab dengan kami berada di bagian belakang rumah namun yang bersangkutan merayakan lebaran di kampung halaman tahun ini.
Selesai bersilaturahmi dengan tetangga dekat rumah kami segera meluncur ke komplek dinas lama kami yang berjarak kurang dari 2 km. Di sana masih tinggal beberapa kepala keluarga. Sayang tidak banyak yang juga dapat kami temui karena sebagian dari mereka tengah keluar rumah bersilaturahmi di tempat lain.
Dari komplek tersebut, dengan berboncengan sepeda motor, kami meluncur ke komplek yang lain yang jaraknya juga tidak terlalu jauh. Di sana tinggal mantan boz yang yang saat ini sudah memasuki masa pensiun. Beliaulah yang juga telah memberi warna dalam pola kerjaku dan juga sikap dalam bekerja. Banyak hal yang dapat kupelajari dari kepemimpinan beliau saat itu. Bahkan sebagian pola kerja ku banyak yang terilhami dari sosok beliau.
Kami tak bisa berlama-lama di rumah beliau karena kami juga harus segera menyambangi keluarga besarku yang ada di Sunter, Jakarta Utara. Jarak dari rumah ku ke sana lumayan jauh. Bila melalui jalan toll, rata-rata waktu tempuh sekitar 1 jam. Kami pun segera pamit dan pulang ke rumah.
Saat kami meninggalkan komplek, kemacetan langsung menghadang! Rupanya sebagian besar warga tengah melakukan perjalanan baik menggunakan kendaraan ataupun berjalan kaki untuk bersilaturahmi dengan sanak keluarga mereka. Untuk menuju pintu gerbang toll yang biasanya hanya ditempuh kurang dari 20 menit, kali ini kami tempuh hampir 1 jam!
Di jalan toll pun sama saja! Dan mirip sekali dengan kepadatan lalu lintas di hari kerja biasa! Sungguh luar biasa ibukota ini. Dan, akhirnya, untuk mencapai Sunter waktu yang kami butuhkan adalah 2,5 jam! Huff....
Sore hari hujan mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Namun tidak mengurangi semangat kami (aku dan keluarga besar) untuk mengunjungi kakak kandung Ibuku yang tinggal di pemukiman di Mangga Dua. Suasana seperti ini hanya bisa kami rasakan setahun sekali saja. Saat kami duduk dan bercengkerama di sana, rasanya seperti baru kemarin kami datang ke rumah nan mungil tersebut. Padahal hal itu kami lakukan saat lebaran tahun lalu!
Minal aidin wal faizin...........mohon maaf lahir dan batin......
Puasa tahun ini aku lebih banyak disibukkan dengan kegiatan kantor yang memerlukan waktu dan tenaga yang lumayan. Saking banyaknya pekerjaan (karena dikejar deadline) hampir 2 minggu berturut-turut aku berbuka puasa di kantor bersama teman-teman kantor. Bahkan tidak jarang aku pulang saat larut menjelang.
Sedangkan istri dan anak-anak ku lebih banyak menghabiskan waktu berpuasa di rumah. Sesekali mereka melakukan iktikaf bersama teman-temannya.
Lebaran tahun ini jatuh pada hari kamis, 8 Agustus 2013. Hampir semua golongan dalam agama kami merayakan pada hari yang sama. Tanggal tersebut sekaligus mengingatkan kami pada hari berpulangnya bapakku tercinta. Memang ia tidak wafat persis pada tanggal tersebut. Beliau meninggal dunia pada tanggal 6 Agustus 2006. Namun setiap masuk bulan Agustus, aku selalu teringat akan jasa-jasa beliau selama mendidik diriku. Dengan penuh ketelatenan dan sedikit "keras", beliaulah yang "memaksa" aku untuk menyenangi dunia hitung-menghitung yang akhirnya membuat aku menyukai matematika dan ilmu sepadan lainnya. Sungguh luar biasa perjuangan beliau!
Semoga Allah memberikan kelapangan dan keterangan kuburnya.... Dan semoga Allah memberikan tempat yang sangat layak di sana.... Amiin.....
Lebaran kali ini adalah lebaran pertama kami di rumah kami yang baru kami tempati sekitar 7 bulan. Meskipun dah selama itu kami tinggal di sini namun kami masih tidak mengenal banyak tetangga. Maklum lingkungan komplek rata-rata memang seperti itu. Kami hanya mengenal beberapa tetangga saja...
Oleh karenanya, saat kami selesai menunaikan sholat ied di masjid komplek, kami hanya menyambangi satu rumah saja yang berada di samping kiri kami. Tetangga yang sebenarnya lebih akrab dengan kami berada di bagian belakang rumah namun yang bersangkutan merayakan lebaran di kampung halaman tahun ini.
Selesai bersilaturahmi dengan tetangga dekat rumah kami segera meluncur ke komplek dinas lama kami yang berjarak kurang dari 2 km. Di sana masih tinggal beberapa kepala keluarga. Sayang tidak banyak yang juga dapat kami temui karena sebagian dari mereka tengah keluar rumah bersilaturahmi di tempat lain.
Dari komplek tersebut, dengan berboncengan sepeda motor, kami meluncur ke komplek yang lain yang jaraknya juga tidak terlalu jauh. Di sana tinggal mantan boz yang yang saat ini sudah memasuki masa pensiun. Beliaulah yang juga telah memberi warna dalam pola kerjaku dan juga sikap dalam bekerja. Banyak hal yang dapat kupelajari dari kepemimpinan beliau saat itu. Bahkan sebagian pola kerja ku banyak yang terilhami dari sosok beliau.
Kami tak bisa berlama-lama di rumah beliau karena kami juga harus segera menyambangi keluarga besarku yang ada di Sunter, Jakarta Utara. Jarak dari rumah ku ke sana lumayan jauh. Bila melalui jalan toll, rata-rata waktu tempuh sekitar 1 jam. Kami pun segera pamit dan pulang ke rumah.
Saat kami meninggalkan komplek, kemacetan langsung menghadang! Rupanya sebagian besar warga tengah melakukan perjalanan baik menggunakan kendaraan ataupun berjalan kaki untuk bersilaturahmi dengan sanak keluarga mereka. Untuk menuju pintu gerbang toll yang biasanya hanya ditempuh kurang dari 20 menit, kali ini kami tempuh hampir 1 jam!
Di jalan toll pun sama saja! Dan mirip sekali dengan kepadatan lalu lintas di hari kerja biasa! Sungguh luar biasa ibukota ini. Dan, akhirnya, untuk mencapai Sunter waktu yang kami butuhkan adalah 2,5 jam! Huff....
Sore hari hujan mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Namun tidak mengurangi semangat kami (aku dan keluarga besar) untuk mengunjungi kakak kandung Ibuku yang tinggal di pemukiman di Mangga Dua. Suasana seperti ini hanya bisa kami rasakan setahun sekali saja. Saat kami duduk dan bercengkerama di sana, rasanya seperti baru kemarin kami datang ke rumah nan mungil tersebut. Padahal hal itu kami lakukan saat lebaran tahun lalu!
Minal aidin wal faizin...........mohon maaf lahir dan batin......
Selasa, 18 Juni 2013
Kumpul....
Minggu siang 16 Juni 2013 rumah kami penuh dengan tawa canda. Selepas makan siang bersama anak-anak berlari-lari di dalam dan di luar rumah. Keceriaan nampak di wajah mereka. Maklum, kesempatan seperti ini jarang mereka rasakan.
Meski sebagian besar anak-anak sudah saling mengenal namun kebersamaan dalam canda ria sulit mereka dapatkan karena perbedaan jarak tempat tinggal di antara mereka.
Acara kumpul keluarga hari ini tidak didesain secara khusus. Awalnya, salah seorang kakakku memberi tahu bahwa salah seorang keponakan kami yang tinggal di negeri tetangga, Malaysia, sedang berlibur ke Jakarta. Mereka berencana untuk berkunjung ke Sunter, tempat tinggal orang tua kami.
Aku ditawari apakah mau bertemu atau tidak dengan keponakanku tersebut. Tentu saja kujawab mau! Sudah sangat lama aku tidak bersua dengan keponakanku tersebut. Terakhir melihatnya saat ia masih balita. Sejak ibunya berpisah dengan adikku (yang kini sudah almarhum), kami menjadi jarang bersua.
Spontan aku tawari saja bagaimana bila pertemuan dilakukan di rumahku. Aku berjanji akan menyajikan masakan sesuai pesanan mereka hehehe.
Kakakku kontan setuju. Ide bagus katanya. Kebetulan beberapa anggota keluarga yang lain memang sudah berencana untuk berkunjung ke rumah kami. Maka, jadilah kami berkumpul di hari minggu itu.
Minggu pagi aku masih menyempatkan bermain tenis bersama teman-teman sebagaimana biasanya. Sekitar jam 10 pagi aku kembali ke rumah. Sebelum mandi, kusempatkan untuk mengelap bodi mobil karena esok senin akan kupakai ke luar kota.
Saat kubersiap untuk mandi selepas mengelap mobil, terdengar suara klakson sepeda motor. Ternyata adikku dan keluarga kecilnya telah tiba di depan rumahku.
Selang tak lama kemudian, rombongan keluargaku dari Sunter pun tiba. Setelah menyapa mereka aku segera izin untuk mandi.
Satu jam kemudian rombongan ipar kami pun tiba dengan menggunakan taksi. Maka semakin ramailah isi rumah di siang hari itu. Masakan yang telah disiapkan oleh istriku segera saja kami santap bersama.
Dan selesai makan siang, kami pun bercengkrama....
Sebuah minggu yang indah....
Meski sebagian besar anak-anak sudah saling mengenal namun kebersamaan dalam canda ria sulit mereka dapatkan karena perbedaan jarak tempat tinggal di antara mereka.Acara kumpul keluarga hari ini tidak didesain secara khusus. Awalnya, salah seorang kakakku memberi tahu bahwa salah seorang keponakan kami yang tinggal di negeri tetangga, Malaysia, sedang berlibur ke Jakarta. Mereka berencana untuk berkunjung ke Sunter, tempat tinggal orang tua kami.
Aku ditawari apakah mau bertemu atau tidak dengan keponakanku tersebut. Tentu saja kujawab mau! Sudah sangat lama aku tidak bersua dengan keponakanku tersebut. Terakhir melihatnya saat ia masih balita. Sejak ibunya berpisah dengan adikku (yang kini sudah almarhum), kami menjadi jarang bersua.
Spontan aku tawari saja bagaimana bila pertemuan dilakukan di rumahku. Aku berjanji akan menyajikan masakan sesuai pesanan mereka hehehe.
Kakakku kontan setuju. Ide bagus katanya. Kebetulan beberapa anggota keluarga yang lain memang sudah berencana untuk berkunjung ke rumah kami. Maka, jadilah kami berkumpul di hari minggu itu.Minggu pagi aku masih menyempatkan bermain tenis bersama teman-teman sebagaimana biasanya. Sekitar jam 10 pagi aku kembali ke rumah. Sebelum mandi, kusempatkan untuk mengelap bodi mobil karena esok senin akan kupakai ke luar kota.
Saat kubersiap untuk mandi selepas mengelap mobil, terdengar suara klakson sepeda motor. Ternyata adikku dan keluarga kecilnya telah tiba di depan rumahku.
Selang tak lama kemudian, rombongan keluargaku dari Sunter pun tiba. Setelah menyapa mereka aku segera izin untuk mandi.
Satu jam kemudian rombongan ipar kami pun tiba dengan menggunakan taksi. Maka semakin ramailah isi rumah di siang hari itu. Masakan yang telah disiapkan oleh istriku segera saja kami santap bersama.
Dan selesai makan siang, kami pun bercengkrama....
Sebuah minggu yang indah....
Minggu, 09 Juni 2013
Kondisi terkini tanaman kami....
Semakin hari semakin terlihat hijau pekarangan kami. Sejak ditumbuhi rumput gajah mini yang mulai merebak, pekarangan yang sebelumnya nampak gersang kini hijau royo-royo. Pemandangan ini membuat sedap di pandang mata.
kelengkeng varietas diamond river
Semuanya membuat suasana pekarangan benar-benar hijau!
kelengkeng varietas puanrai
Suasana ini membuat aku dan keluarga betah berlama-lama di pekarangan... Kami pun bertekad untuk menambah jenis tanaman di pekarangan tersebut, khususnya yang berada di dalam pot.
Entah sudah ada berapa puluh atau ratus tanaman yang ada di rumah kami....
Nyantai....
Setiap sabtu dan minggu pagi aku selalu menyempatkan diri bermain tenis lapangan bersama teman-teman alumni. Kegiatan ini sudah berlangsung hampir 3 tahun.Selain untuk menggerakkan tubuh, kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahmi mingguan. Di sela-sela permainan, kami bisa bercanda tawa dan kadang membicarakan hal-hal yang ringan.
Kami sepakat untuk tidak membicarakan hal-hal berat, seperti pekerjaan kantor, selama kami berada di lapangan tenis.
Sabtu kemarin, selepas bermain tenis dan setelah tiba di rumah, kugunakan siang itu untuk nyantai di tepi kolam kecil. Siang itu kebetulan cuaca cerah dan tidak terlalu panas.Setelah memberi makan kucing peliharaan kami, aku nongkrong di pinggir kolam sembari memberi makan ikan nila yang terlihat asyik berenang di sana kemari.
Kunikmati benar suasana siang itu. Rasa damai menghampiri perasaan dan pikiran ku. Tenang rasanya.
Tak lama kemudian, istriku ikut bergabung. Untuk menambah suasas rileks, ia membuatkan secangkir kopi hitam dan roti panggang sebagai kudapan.
Betapa nikmatnya siang itu......
Kamis, 06 Juni 2013
Syukuran alakadarnya untuk Mas Icud
Dua minggu lalu kami sedikit memaksakan untuk membuat acara syukuran yang dikemas dalam acara hakekahan untuk Mas Icud, putra kedua kami.
Sedikit memaksakan? Ya, karena kondisi keuangan yang sebenarnya sedang terbatas memaksa kami untuk mulai membenahi sisi pengeluaran rumah tangga. Namun, untuk acara yang satu ini kami pandang tidak ada salahnya bila dipaksakan.
Di samping karena memang kewajiban yang seharusnya kami tunaikan sejak belasan tahun lalu, juga karena kami memandang perlu melakukan syukuran khusus bagi putra kami tersebut.
Kebetulan, kami masih ada sisa dana hasil penarikan dana investasi pendidikan anak setelah dikurangi untuk pembelian dua buah sepeda motor.
Kami memesan dua ekor kambing yang tentu saja telah diolah dalam bentuk masakan. Sebagian berupa sate dan sebagian lagi berupa sop. Humm yummi.....!
Pengolahnya adalah seorang haji yang berprofesi sebagai penyedia masakan hakekah dan acara lainnya. Tinggalnya pun tidak jauh dari kediaman kami.
Hari itu, kami mengundang teman-teman Mas Icud untuk makan bersama di rumah kami. Namun hingga menjelang siang, belum nampak satu pun yang datang. Rupanya mereka masih kelelahan akibat nonbar (nonton bareng) pertandingan final liga champion di sekolah dini hari tadi.
Menjelang sore barulah mereka mulai berdatangan.
Sebagian masakan kami kemas dan kami bagikan ke rekan-rekan kami lainnya. Semoga saja niat dan kegiatan kami ini mendapatkan keberkahan dari Nya. Aamiin...
Sedikit memaksakan? Ya, karena kondisi keuangan yang sebenarnya sedang terbatas memaksa kami untuk mulai membenahi sisi pengeluaran rumah tangga. Namun, untuk acara yang satu ini kami pandang tidak ada salahnya bila dipaksakan.
Di samping karena memang kewajiban yang seharusnya kami tunaikan sejak belasan tahun lalu, juga karena kami memandang perlu melakukan syukuran khusus bagi putra kami tersebut.
Kebetulan, kami masih ada sisa dana hasil penarikan dana investasi pendidikan anak setelah dikurangi untuk pembelian dua buah sepeda motor.
Kami memesan dua ekor kambing yang tentu saja telah diolah dalam bentuk masakan. Sebagian berupa sate dan sebagian lagi berupa sop. Humm yummi.....!
Pengolahnya adalah seorang haji yang berprofesi sebagai penyedia masakan hakekah dan acara lainnya. Tinggalnya pun tidak jauh dari kediaman kami.
Hari itu, kami mengundang teman-teman Mas Icud untuk makan bersama di rumah kami. Namun hingga menjelang siang, belum nampak satu pun yang datang. Rupanya mereka masih kelelahan akibat nonbar (nonton bareng) pertandingan final liga champion di sekolah dini hari tadi.
Menjelang sore barulah mereka mulai berdatangan.
Sebagian masakan kami kemas dan kami bagikan ke rekan-rekan kami lainnya. Semoga saja niat dan kegiatan kami ini mendapatkan keberkahan dari Nya. Aamiin...
Minggu, 19 Mei 2013
Mempercantik Taman....
Akhirnya.....kami punya juga pekarangan dengan taman yang cantik. Cantik menurut pandangan kami, lho! Karena kalo dibandingkan dengan taman-taman cantik yang kami lihat di internet, taman kami tersebut nggak ada apa-apa nya!
Setelah beberapa minggu mengatur dan mendesain berdasarkan ide-ide spontan, kini pekarangan kami sudah mulai tampak hijau. Pekarangan yang sebelumnya didominasi oleh tanah liat berwarna merah kini telah terhampar rumput gajah mini di atasnya. Hamparan rumput ini menemani kolam mungil memanjang bagai selokan yang berada di sepanjang dinding samping rumah.
Di beberapa sudut pekarangan, ditumbuhi berbagai jenis tanaman hias. Ada tanaman hias yang memang baru di tanam dan selebihnya adalah tanaman hias lama milik kami. Tanaman dalam pot, kami tata di bagian sisi pekarangan. Beberapa tanaman pot lainnya kami letakkan di taman mungil dalam rumah.Satu pohon klengkeng pemberian seorang sahabat dari Mataram dan sebuah pohon kedondong, kami geser untuk memberi ruang bagi tanaman hias. Sedangkan satu tanaman klengkeng lainnya, berada tetap ditempatnya.
Untuk menambah apik pekarangan tersebut, kami buat pula setapak "jalan batu". Fungsinya, selain untuk mempercantik taman, juga untuk refleksi telapak kaki.
Sabtu, 11 Mei 2013
Rumput Gajah Mini
Demi mendapatkan nuansa hijau pada lahan di halaman rumah kami, akhirnya kami putuskan untuk mengorek kembali tabungan yang jumlahnya sangat-sangat tipis.
Kali ini dana tersebut kami gunakan untuk mempercantik halaman dengan menanam rumput gajah mini. Semuanya demi mendapatkan nuasa hijau agar halaman semakin terlihat apik dan segar.
Penanaman rumput gajah mini ini memang sekuen berikutnya dari rencana yang telah dibuat. Setelah kolam ikan berbentuk selokan terbentuk, maka agar tanah liat yang ada di sisi kolam tersbeut tidak mengganggu pemandangan maka segera harus ditutupi dengan rumput.
Apalagi tanah tersebut begitu liat saat basah dan sangat keras saat kering. Hanya penanaman rumput yang dapat memberikan solusi keliatan dan kekerasan tanah tersebut.
Penanaman rumput kami serahkan kepada tukang kebun keliling yang menjadi langganan kami. Mereka juga yang membuat kolam ikan. Sebenarnya ada keinginan kami untuk menanamnya sendiri. Namun karena kami sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam hal ini, maka dengan terpaksa kami hanya bisa menjadi mandor dan menyerahkan pekerjaan kepada orang lain.
Dan agar aku mengetahui cara kerja para tukang kebun tersebut, maka kuperhatikan dengan seksama bagaimana mereka mengerjakannnya.
Ya, siapa tau suatu saat aku bisa mengerjakannya sendiri. Entah untuk kebun di mana.... Yang pasti dengan melihat, aku mendapatkan banyak pengalaman dari pengamatan tersebut...
Kali ini dana tersebut kami gunakan untuk mempercantik halaman dengan menanam rumput gajah mini. Semuanya demi mendapatkan nuasa hijau agar halaman semakin terlihat apik dan segar.
Penanaman rumput gajah mini ini memang sekuen berikutnya dari rencana yang telah dibuat. Setelah kolam ikan berbentuk selokan terbentuk, maka agar tanah liat yang ada di sisi kolam tersbeut tidak mengganggu pemandangan maka segera harus ditutupi dengan rumput.
Apalagi tanah tersebut begitu liat saat basah dan sangat keras saat kering. Hanya penanaman rumput yang dapat memberikan solusi keliatan dan kekerasan tanah tersebut.
Penanaman rumput kami serahkan kepada tukang kebun keliling yang menjadi langganan kami. Mereka juga yang membuat kolam ikan. Sebenarnya ada keinginan kami untuk menanamnya sendiri. Namun karena kami sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam hal ini, maka dengan terpaksa kami hanya bisa menjadi mandor dan menyerahkan pekerjaan kepada orang lain.
Dan agar aku mengetahui cara kerja para tukang kebun tersebut, maka kuperhatikan dengan seksama bagaimana mereka mengerjakannnya.
Ya, siapa tau suatu saat aku bisa mengerjakannya sendiri. Entah untuk kebun di mana.... Yang pasti dengan melihat, aku mendapatkan banyak pengalaman dari pengamatan tersebut...
Kamis, 09 Mei 2013
Kolam Ikan Tipe Selokan
Keinginan kami memiliki kolam ikan dengan bentuk menyerupai selokan akhirnya terwujud. Dengan biaya kurang dari 5 juta, kolam yang memanjang di sepanjang sisi kanan dinding luar rumah ini telah terbentang.
Dibutuhkan waktu pengerjaan sekitar 6 hari oleh dua orang tukang penjual tanaman langganan kami.
Desainnya sangat-sangat sederhana. Bentuk selokan kami pilih karena bentuk ini rasanya yang paling pas buat kami untuk menambah keindahan halaman rumah.
Kini, masih ada satu pe-er kami dalam rangka mempercantik halaman, yaitu penanaman rumput gajah mini di atas lahan yang masih berupa gundukan tanah merah liat.
Tekad kami, halaman harus hijau! Dan penuh dengan berbagai jenis tanaman!
Kemarin kamis, kolam tersebut kami isi dengan 85 ekor ikan patin yang kami beli dari kios penjual ikan hias. Inginnya sich mengisi dengan ratusan ekon ikan. Tapi berhubung adanya cuma sebanyak itu, ya sudah hanya sejumlah itu yang bisa kami beli.
Agar tidak hanya satu jenis ikan, rencana kolam tersebut akan kami isi pula dengan ikan nila.
Aku tidak tahu apakah nila akan bisa bertahan di kolam yang airnya tidak mengalir?
Saat di Jogja aku pernah bereksperimen dengan ikan jenis ini untuk kolam yang tidak airnya tidak mengalir. Hasilnya, tidak bagus! Banyak yang mati. Hiks.
Dari tiga jenis ikan yang aku pelihara saat itu (Nila, Emas, dan Bawal) hanya bawal yang mampu bertahan....
Aku juga sedang mencari informasi dimana tempat penjual ikan bawal. Bila ada, tentu akan kuisi juga kolam tersebut dengan ikan berbentuk pipih tersebut.
Dibutuhkan waktu pengerjaan sekitar 6 hari oleh dua orang tukang penjual tanaman langganan kami.
Desainnya sangat-sangat sederhana. Bentuk selokan kami pilih karena bentuk ini rasanya yang paling pas buat kami untuk menambah keindahan halaman rumah.
Kini, masih ada satu pe-er kami dalam rangka mempercantik halaman, yaitu penanaman rumput gajah mini di atas lahan yang masih berupa gundukan tanah merah liat.
Tekad kami, halaman harus hijau! Dan penuh dengan berbagai jenis tanaman!
Kemarin kamis, kolam tersebut kami isi dengan 85 ekor ikan patin yang kami beli dari kios penjual ikan hias. Inginnya sich mengisi dengan ratusan ekon ikan. Tapi berhubung adanya cuma sebanyak itu, ya sudah hanya sejumlah itu yang bisa kami beli.Agar tidak hanya satu jenis ikan, rencana kolam tersebut akan kami isi pula dengan ikan nila.
Aku tidak tahu apakah nila akan bisa bertahan di kolam yang airnya tidak mengalir?
Saat di Jogja aku pernah bereksperimen dengan ikan jenis ini untuk kolam yang tidak airnya tidak mengalir. Hasilnya, tidak bagus! Banyak yang mati. Hiks.
Dari tiga jenis ikan yang aku pelihara saat itu (Nila, Emas, dan Bawal) hanya bawal yang mampu bertahan....
Aku juga sedang mencari informasi dimana tempat penjual ikan bawal. Bila ada, tentu akan kuisi juga kolam tersebut dengan ikan berbentuk pipih tersebut.
Selasa, 07 Mei 2013
2 Mei (2013) yang Manis dan Pahit.........
Tanggal 2 Mei adalah tanggal kelahiran anak kedua kami. M. Irsyad Khoiri Salim. Usianya kini 14 tahun. Kami tidak merayakan apa-apa untuk tanggal istimewanya ini. Sekedar ucapan selamat saja yang kami berikan di pagi hari.
Pagi itu ia ku cium pipinya dan kupeluk seraya memberikan ucapan selamat ulang tahun. Kubisikan di telinganya, "hadiahnya besok-besok ya Mas...."
Ia hanya tersenyum membalas kata-kataku.
Siang harinya, aku izin keluar kantor untuk menuju bank Mandiri terdekat dari kantorku. Tujuannya adalah melakukan penarikan dana investasi yang aku simpan di sebuah lembaga asuransi yang bekerja sama dengan sebuah bank pemerintah.
Di sana aku dilayani oleh seorang financial advisor. Segera kuberikan identitasku. Tak lama ia menginformasikan bahwa kedua polis yang aku sodorkan bernilai 26 juta lebih, masing-masing!
Alhamdulillah..............dengan hanya membayar 250ribuan per orang per bulan, nilainya menjadi sebesar itu setelah 6 tahun lebih. Apalagi ada tanggungan kesehatan pula di sana.
Kalau nabung sendiri sebesar itu, rasanya uang tersebut tidak akan pernah bisa terkumpul. Maklum, pasti ada saja kebutuhan yang "memaksa" kami mengambil uang tersebut hehehehe..
Ketika ditanya berapa dana yang akan kuambil? Spontan kujawab 20juta, masing-masing.
Tidak butuh lama untuk memproses administrasi penarikan dana. Yang lama adalah waktu pencairannya. Dibutuhkan waktu paling lama 7 hari katanya. Hiks!
Ya sudah, mau diapain lagi!
Niatku mengambil dana tersebut adalah membeli sebuah sepeda motor baru untuk anakku yang hari ini berulang tahun. Sisanya akan kupakai untuk membiayai anak pertamaku yang akan masuk keperguruan tinggi tahun ini....
Itulah kisah manis di hari ini...
Siang hari, ba'da sholat dzuhur, istriku mengirim sebuah pesan singkat via bebe. Isinya: pahit!
Ia mengabarkan bahwa anak keduaku telah di tipu di jalan dan motor yang dikendarainya berhasil dibawa orang yang menipunya! Gubrakkkk!!!
Saat itu ia akan menuju rumah kawannya. Apes....! Huh...bener-bener apes!!!
Ini adalah kisah ke tiga kalinya ia menghilangkan barang! Ia pernah tertipu mirip seperti hari ini. Sebuah sepeda polygon melayang berpindah tangan! Kedua, sebuah sepeda merek yang sama kembali hilang! Kali ini bukan karena ditipu tetapi karena ia memarkirkan sepeda tersebut tanpa dikunci di depan sebuah warnet! Sungguh ceroboh!!!! Dikiranya semua orang punya hati yang baik. Yang tidak akan mengambil barang yang bukan miliknya, kali??!!!!
Padahal aku sudah memberikan sebuah rantai dan kunci gembok untuk mengunci sepeda tersebut.
Hari itu ia tidak membawa rantai maupun kunci gembok. Huh dasar ceroboh!!!
Kejadian di atas adalah kejadian dua tahun lalu kalau tidak salah. Saat itu postur tubuhnya masih mungil dan masih terlihat sebagai seorang anak kecil.
Lah kalau sekarang ia sudah terlihat lebih dewasa. Bahkan tinggi badannya sudah melebihi diriku.
Dengan postur seperti itu ternyata ia tetap saja masih bisa dibohongi orang!!! (tepok jidat)
Mendengar kejadian tersebut spontan aku marah besar, mengingat ini adalah kejadian ketiga kalinya ia menghilangkan sebuah barang!!!
Meskipun aku agak lega karena ia tidak diapa-apakan oleh si penipu. Dan juga motor tersebut di asuransikan!
Bagiku tetap saja ini adalah kesalahan besar yang tidak boleh terulang lagi!
Aku pun memberikan peringatan padanya bahwa ia aku hukum tidak boleh membawa motor selama satu tahun!!!!
Kisah sedih ternyata masih berlanjut! Sejak siang hingga sore aku berkomunikasi via bebe dengan seorang kawanku yang menjadi sales agent asuransi.
Setelah bercakap-cakap cukup intens akhirnya didapati kesimpulan bahwa polis asuransi motor tersebut tidak bisa di klaim! Alasannya karena si pengendara, saat terjadinya kehilangan, tidak atau belum memiliki SIM...!!! Gubraakkkkkkkkkkkkkkk...........!!!
Kecewa berat aku dengan kondisi tersebut! Rasa marahpun muncul. Aku tidak akan menggunakan jasa asuransi tersebut lagi....!!
Keesokan harinya, aku merenungi kembali kejadian tersebut. Aku harus instropeksi diri. Aku harus mengambil hikmah dari kejadian ini.
Dan kembali belajar tentang ikhlas....!!!!
Pagi itu ia ku cium pipinya dan kupeluk seraya memberikan ucapan selamat ulang tahun. Kubisikan di telinganya, "hadiahnya besok-besok ya Mas...."
Ia hanya tersenyum membalas kata-kataku.
Siang harinya, aku izin keluar kantor untuk menuju bank Mandiri terdekat dari kantorku. Tujuannya adalah melakukan penarikan dana investasi yang aku simpan di sebuah lembaga asuransi yang bekerja sama dengan sebuah bank pemerintah.
Di sana aku dilayani oleh seorang financial advisor. Segera kuberikan identitasku. Tak lama ia menginformasikan bahwa kedua polis yang aku sodorkan bernilai 26 juta lebih, masing-masing!
Alhamdulillah..............dengan hanya membayar 250ribuan per orang per bulan, nilainya menjadi sebesar itu setelah 6 tahun lebih. Apalagi ada tanggungan kesehatan pula di sana.
Kalau nabung sendiri sebesar itu, rasanya uang tersebut tidak akan pernah bisa terkumpul. Maklum, pasti ada saja kebutuhan yang "memaksa" kami mengambil uang tersebut hehehehe..
Ketika ditanya berapa dana yang akan kuambil? Spontan kujawab 20juta, masing-masing.
Tidak butuh lama untuk memproses administrasi penarikan dana. Yang lama adalah waktu pencairannya. Dibutuhkan waktu paling lama 7 hari katanya. Hiks!
Ya sudah, mau diapain lagi!
Niatku mengambil dana tersebut adalah membeli sebuah sepeda motor baru untuk anakku yang hari ini berulang tahun. Sisanya akan kupakai untuk membiayai anak pertamaku yang akan masuk keperguruan tinggi tahun ini....
Itulah kisah manis di hari ini...
Siang hari, ba'da sholat dzuhur, istriku mengirim sebuah pesan singkat via bebe. Isinya: pahit!
Ia mengabarkan bahwa anak keduaku telah di tipu di jalan dan motor yang dikendarainya berhasil dibawa orang yang menipunya! Gubrakkkk!!!
Saat itu ia akan menuju rumah kawannya. Apes....! Huh...bener-bener apes!!!
Ini adalah kisah ke tiga kalinya ia menghilangkan barang! Ia pernah tertipu mirip seperti hari ini. Sebuah sepeda polygon melayang berpindah tangan! Kedua, sebuah sepeda merek yang sama kembali hilang! Kali ini bukan karena ditipu tetapi karena ia memarkirkan sepeda tersebut tanpa dikunci di depan sebuah warnet! Sungguh ceroboh!!!! Dikiranya semua orang punya hati yang baik. Yang tidak akan mengambil barang yang bukan miliknya, kali??!!!!
Padahal aku sudah memberikan sebuah rantai dan kunci gembok untuk mengunci sepeda tersebut.
Hari itu ia tidak membawa rantai maupun kunci gembok. Huh dasar ceroboh!!!
Kejadian di atas adalah kejadian dua tahun lalu kalau tidak salah. Saat itu postur tubuhnya masih mungil dan masih terlihat sebagai seorang anak kecil.
Lah kalau sekarang ia sudah terlihat lebih dewasa. Bahkan tinggi badannya sudah melebihi diriku.
Dengan postur seperti itu ternyata ia tetap saja masih bisa dibohongi orang!!! (tepok jidat)
Mendengar kejadian tersebut spontan aku marah besar, mengingat ini adalah kejadian ketiga kalinya ia menghilangkan sebuah barang!!!
Meskipun aku agak lega karena ia tidak diapa-apakan oleh si penipu. Dan juga motor tersebut di asuransikan!
Bagiku tetap saja ini adalah kesalahan besar yang tidak boleh terulang lagi!
Aku pun memberikan peringatan padanya bahwa ia aku hukum tidak boleh membawa motor selama satu tahun!!!!
Kisah sedih ternyata masih berlanjut! Sejak siang hingga sore aku berkomunikasi via bebe dengan seorang kawanku yang menjadi sales agent asuransi.
Setelah bercakap-cakap cukup intens akhirnya didapati kesimpulan bahwa polis asuransi motor tersebut tidak bisa di klaim! Alasannya karena si pengendara, saat terjadinya kehilangan, tidak atau belum memiliki SIM...!!! Gubraakkkkkkkkkkkkkkk...........!!!
Kecewa berat aku dengan kondisi tersebut! Rasa marahpun muncul. Aku tidak akan menggunakan jasa asuransi tersebut lagi....!!
Keesokan harinya, aku merenungi kembali kejadian tersebut. Aku harus instropeksi diri. Aku harus mengambil hikmah dari kejadian ini.
Dan kembali belajar tentang ikhlas....!!!!
Senin, 29 April 2013
Nanem.....nanem.....nanem........
Memelihara dan menanam pohon telah kami lakukan sejak tahun
2005-2006. Pohon-pohon yang ditanam masih sebatas pohon hias dan
dilakukan pada media tanam berupa pot.
Sejak dulu aku dan istri memang bercita-cita ingin memiliki tanaman yang banyak di rumah. Selain untuk melepas kepenatan juga untuk membuat hijau sekitar rumah.
Tiap kali kami melihat sebuah rumah yang rimbun oleh pepohonan, iri rasanya. Meskipun rumah yang kami lihat itu cuma ada di tayangan televisi.
Pokoknya, kami niat: kalau sudah punya rumah sendiri, kami akan hiasi dengan banyak tanaman.
Karena tugasku yang selalu berpindah dari satu kota ke kota lain, keinginan tersebut baru terwujud di tahun 2006. Saat itu aku masih tinggal di kediaman orang tuaku di Sunter, Jakarta Utara.
Meski masih sebatas tanaman dalam pot dan jumlahnya pun terbatas, kami cukup puas telah memilikinya.
Aku masih ingat. Saat aku ngajar audit di Selabintana, hampir seluruh honor ngajarku aku belikan berbagai tanaman hias. Mobil kijang yang ku bawa, full berisi berbagai tanaman. Bahkan di jok depan sekalipun berisi tanaman hehehehehe.
Hal yang sama terulang kembali tahun lalu. Saat itu aku ngajar kembali di sana. Istri dan anak bungsu kami ku ajak ke sana.
Selesai ngajar dan saat akan kembali ke Jakarta, aku terkaget-kaget karena ternyata istriku berbelanja berbagai tanaman dalam jumlah yang cukup banyak. Full satu mobil! (tepokjidat)
Sejak kami tinggal di rumah dinas tahun 2008, kami memang mulai mengoleksi berbagai jenis tanaman. Dari tanaman hias hingga tanaman buah.
Jujur, kami hanya senang menanam dan tidak tahu seluruh jenis tanaman yang ditanam.
Pokoknya pohon! Titik!
Kemarin, minggu 28 April 2013, aku mendapat kiriman 4 buah pohon kelenkeng dari seorang sahabatku yang sedang bertugas di Mataram. Ke empat pohon tersebut dari varietas yang berbeda.
Varietas: Pingpong, Diamond River, Aroma Durian, dan Puangrai.
Dua varietas kami tanam di media tanah yang memang sudah kami siapkan. Dua lainnya kami tanam di media pot besar.
Semoga saja tanaman-tanaman tersebut dapat beradaptasi dengan kondisi di rumah ini.
Sejak dulu aku dan istri memang bercita-cita ingin memiliki tanaman yang banyak di rumah. Selain untuk melepas kepenatan juga untuk membuat hijau sekitar rumah.
Tiap kali kami melihat sebuah rumah yang rimbun oleh pepohonan, iri rasanya. Meskipun rumah yang kami lihat itu cuma ada di tayangan televisi.
Pokoknya, kami niat: kalau sudah punya rumah sendiri, kami akan hiasi dengan banyak tanaman.
Karena tugasku yang selalu berpindah dari satu kota ke kota lain, keinginan tersebut baru terwujud di tahun 2006. Saat itu aku masih tinggal di kediaman orang tuaku di Sunter, Jakarta Utara.
Meski masih sebatas tanaman dalam pot dan jumlahnya pun terbatas, kami cukup puas telah memilikinya.
Aku masih ingat. Saat aku ngajar audit di Selabintana, hampir seluruh honor ngajarku aku belikan berbagai tanaman hias. Mobil kijang yang ku bawa, full berisi berbagai tanaman. Bahkan di jok depan sekalipun berisi tanaman hehehehehe.
Hal yang sama terulang kembali tahun lalu. Saat itu aku ngajar kembali di sana. Istri dan anak bungsu kami ku ajak ke sana.
Selesai ngajar dan saat akan kembali ke Jakarta, aku terkaget-kaget karena ternyata istriku berbelanja berbagai tanaman dalam jumlah yang cukup banyak. Full satu mobil! (tepokjidat)
Sejak kami tinggal di rumah dinas tahun 2008, kami memang mulai mengoleksi berbagai jenis tanaman. Dari tanaman hias hingga tanaman buah.
Jujur, kami hanya senang menanam dan tidak tahu seluruh jenis tanaman yang ditanam.
Pokoknya pohon! Titik!
Kemarin, minggu 28 April 2013, aku mendapat kiriman 4 buah pohon kelenkeng dari seorang sahabatku yang sedang bertugas di Mataram. Ke empat pohon tersebut dari varietas yang berbeda.
Varietas: Pingpong, Diamond River, Aroma Durian, dan Puangrai.
Dua varietas kami tanam di media tanah yang memang sudah kami siapkan. Dua lainnya kami tanam di media pot besar.
Semoga saja tanaman-tanaman tersebut dapat beradaptasi dengan kondisi di rumah ini.
Kamis, 18 April 2013
Banjiirrr lagiiiii (kali ini luar biasa!)
Ini adalah kali ketiga banjir melanda pemukiman sejak kami mulai menempati rumah. Sebenarnya kami biasa saja menanggapi datangnya banjir. Mengingat, pemukiman tempat tinggal kami memang terkenal langganan banjir.
Hanya saja banjir kali ini lebih hebat dari banjir pertama dan kedua. Bila banjir sebelumnya hanya sedalam sekitar 20cm di jalan depan rumah, maka kali ini mencapai 40cm lebih.
Bahkan air sudah mulai menaiki carpot rumah yang posisinya lebih tinggi dari jalan.
Apa boleh buat, semua kami nikmati saja.
Yang membuat aku sedih adalah karena seharusnya anak pertamaku sore ini berada di sekolahnya untuk bertamasya menuju kota gudeg Jogjakarta. Ini adalah acara akhir masa sekolah yang sudah dirancang oleh sekolah sejak awal.
Melalui pesan singkat di bebe aku hanya bisa menyampaikan bahwa mungkin Allah telah memiliki rencana untuknya atas musibah banjir ini.
Ia dan beberapa rekannya memang tidak bisa menuju ke sekolah karena banjir sedang melanda Jakarta dan sekitarnya.
Ya, melalui akun twiter aku memantau kondisi jalan-jalan atau area di sekitar ibukota. Beberapa info yang masuk menyebutkan bahwa Jakarta mulai lumpuh. Selain karena banjir tentu saja juga karena dampak ikutannya yang sudah lazim: macet!!!
Di beberapa lokasi di sekitar pemukiman kami juga tergenang air. Termasuk di jalan-jalan utama Bintaro Jaya.
Hanya saja banjir kali ini lebih hebat dari banjir pertama dan kedua. Bila banjir sebelumnya hanya sedalam sekitar 20cm di jalan depan rumah, maka kali ini mencapai 40cm lebih.
Bahkan air sudah mulai menaiki carpot rumah yang posisinya lebih tinggi dari jalan.
Apa boleh buat, semua kami nikmati saja.
Yang membuat aku sedih adalah karena seharusnya anak pertamaku sore ini berada di sekolahnya untuk bertamasya menuju kota gudeg Jogjakarta. Ini adalah acara akhir masa sekolah yang sudah dirancang oleh sekolah sejak awal.
Melalui pesan singkat di bebe aku hanya bisa menyampaikan bahwa mungkin Allah telah memiliki rencana untuknya atas musibah banjir ini.
Ia dan beberapa rekannya memang tidak bisa menuju ke sekolah karena banjir sedang melanda Jakarta dan sekitarnya.
Ya, melalui akun twiter aku memantau kondisi jalan-jalan atau area di sekitar ibukota. Beberapa info yang masuk menyebutkan bahwa Jakarta mulai lumpuh. Selain karena banjir tentu saja juga karena dampak ikutannya yang sudah lazim: macet!!!
Di beberapa lokasi di sekitar pemukiman kami juga tergenang air. Termasuk di jalan-jalan utama Bintaro Jaya.
Jumat, 12 April 2013
Lost.....kucing!
Sudah lama kami sekeluarga memelihara kucing. Sejak tinggal bersama orang tuaku di sunter, kami sudah senang memelihara binatang imut tersebut.
Bahkan ada beberapa kucing yang kami pelihara sejak dilahirkan hingga ajalnya tiba.
Ketika tinggal di rumah dinas beberapa tahun lalu pun kami memelihara kucing.
Umumnya memang kucing liar yang datang ke rumah. Mereka kami beri makan makanan kucing instan sebuah produk yang dijual di supermarket.
Ada beberapa kucing yang kami ambil dari jalan atau semak-semak dekat rumah. Kami tidak tega bila menemukan kucing kecil yang telantarkan.
Kami akan coba rawat mereka sebisanya. Memang tidak semuanya bisa bertahan hingga besar.
Biasanya, dari 4 ekor kucing, hanya satu yang mampu hidup hingga dewasa dan bahkan hingga berkembang biak.
Kami juga pernah memelihara dua ekor kucing angora blasteran. Hanya setahun kami memeliharanya.
Ternyata kami tidak bakat memelihara kucing "bagus".
Keduanya kini telah berpindah tangan ke keluarga pencinta kucing.
Saat kami pindah rumah, ada seekor kucing dengan dua ekor anaknya yang kami bawa. Kami tidak tega meninggalkan begitu saja kucing tersebut karena si anak kucing masih sangat kecil.
Mereka bertiga kami rawat semampunya.
Selain tiga kucing tersebut, sebenarnya ada 3 kucing lagi yang selama ini kami rawat. Ketiga sudah sangat besar sehingga kami berani meninggalkannya.
Alasannya mereka bertiga sudah terbiasa mencari makan di tempat lain selain di rumah kami.
Dua minggu setelah kami tinggalkan, aku kaget saat mengetahui satu di antara tiga kucing tersebut datang kembali ke rumah kami yang lama. Saat itu aku dan istri datang kembali ke rumah dinas untuk bersih-bersih.
Yang membuat kami kaget karena kucing tersebut terlihat kurus.
Tanpa pikir panjang kucing tersebut kami bawa ke rumah kami yang baru.
Lucunya, saat kami bawa ke rumah, kucing yang sudah ada di rumah menolak kehadiran kucing yang kami bawa tersebut. Padahal selama ini mereka rukun-rukun saja saat berada di rumah dinas.
Butuh waktu lama untuk merukunkan mereka kembali.
Aku cukup terheran, bagaimana bisa seekor kucing tidak mengenal temannya sendiri dalam waktu yang relatif singkat.
Mungkin kah hal itu bagian dari fitrah seekor kucing?
Hanya Allah yang Maha Tahu...
Dua hari lalu, dua ekor kucing kami tidak terlihat di rumah sejak siang hari.
Kami baru menyadarinya sore hari.
Kedua ekor kucing itu adalah si Ibu dan seekor anaknya.
Hingga hari ini kami tidak tahu mereka berada di mana atau kemana.
Dugaan kami, ada yang mengambilnya saat mereka bermain ke luar pagar.
Semoga saja dugaan kami benar dan keduanya dirawat dengan baik.
Bukan karena tertabrak kendaraan dan mati
Yang membuat kami kadang bersedih adalah karena si ibu kucing mempunyai dua anak. Dan kini seorang anaknya tertinggal di rumah kami.
Si anak ini memang sudah bisa makan sendiri. Namun ia terlihat belum mandiri.
Selama ini aku perhatikan ia selalu tidur berada di sebelah si ibu dan saudaranya.
Dua hari ini ia selalu mengeong seolah mencari keberadaan si ibu dan saudaranya.
Tak ada yang bisa kami lakukan saat ini untuk mempertemukan mereka kembali.
Inilah takdir baginya. Ia harus bisa mandiri hingga dewasa kelak.
Bahkan ada beberapa kucing yang kami pelihara sejak dilahirkan hingga ajalnya tiba.
Ketika tinggal di rumah dinas beberapa tahun lalu pun kami memelihara kucing.
Umumnya memang kucing liar yang datang ke rumah. Mereka kami beri makan makanan kucing instan sebuah produk yang dijual di supermarket.
Ada beberapa kucing yang kami ambil dari jalan atau semak-semak dekat rumah. Kami tidak tega bila menemukan kucing kecil yang telantarkan.
Kami akan coba rawat mereka sebisanya. Memang tidak semuanya bisa bertahan hingga besar.
Biasanya, dari 4 ekor kucing, hanya satu yang mampu hidup hingga dewasa dan bahkan hingga berkembang biak.
Kami juga pernah memelihara dua ekor kucing angora blasteran. Hanya setahun kami memeliharanya.
Ternyata kami tidak bakat memelihara kucing "bagus".
Keduanya kini telah berpindah tangan ke keluarga pencinta kucing.
Saat kami pindah rumah, ada seekor kucing dengan dua ekor anaknya yang kami bawa. Kami tidak tega meninggalkan begitu saja kucing tersebut karena si anak kucing masih sangat kecil.
Mereka bertiga kami rawat semampunya.
Selain tiga kucing tersebut, sebenarnya ada 3 kucing lagi yang selama ini kami rawat. Ketiga sudah sangat besar sehingga kami berani meninggalkannya.
Alasannya mereka bertiga sudah terbiasa mencari makan di tempat lain selain di rumah kami.
Dua minggu setelah kami tinggalkan, aku kaget saat mengetahui satu di antara tiga kucing tersebut datang kembali ke rumah kami yang lama. Saat itu aku dan istri datang kembali ke rumah dinas untuk bersih-bersih.
Yang membuat kami kaget karena kucing tersebut terlihat kurus.
Tanpa pikir panjang kucing tersebut kami bawa ke rumah kami yang baru.
Lucunya, saat kami bawa ke rumah, kucing yang sudah ada di rumah menolak kehadiran kucing yang kami bawa tersebut. Padahal selama ini mereka rukun-rukun saja saat berada di rumah dinas.
Butuh waktu lama untuk merukunkan mereka kembali.
Aku cukup terheran, bagaimana bisa seekor kucing tidak mengenal temannya sendiri dalam waktu yang relatif singkat.
Mungkin kah hal itu bagian dari fitrah seekor kucing?
Hanya Allah yang Maha Tahu...
Dua hari lalu, dua ekor kucing kami tidak terlihat di rumah sejak siang hari.
Kami baru menyadarinya sore hari.
Kedua ekor kucing itu adalah si Ibu dan seekor anaknya.
Hingga hari ini kami tidak tahu mereka berada di mana atau kemana.
Dugaan kami, ada yang mengambilnya saat mereka bermain ke luar pagar.
Semoga saja dugaan kami benar dan keduanya dirawat dengan baik.
Bukan karena tertabrak kendaraan dan mati
Yang membuat kami kadang bersedih adalah karena si ibu kucing mempunyai dua anak. Dan kini seorang anaknya tertinggal di rumah kami.
Si anak ini memang sudah bisa makan sendiri. Namun ia terlihat belum mandiri.
Selama ini aku perhatikan ia selalu tidur berada di sebelah si ibu dan saudaranya.
Dua hari ini ia selalu mengeong seolah mencari keberadaan si ibu dan saudaranya.
Tak ada yang bisa kami lakukan saat ini untuk mempertemukan mereka kembali.
Inilah takdir baginya. Ia harus bisa mandiri hingga dewasa kelak.
Resmi di agunkan!
Senin sore lalu (8 April 2013) aku dan istri menandatangani berbagai dokumen yang terkait dengan pengagunan rumah kami untuk modal usaha perusahaan sahabatku.
Penandatanganan dilakukan di rumah sahabatku dihadapan notaris dan pihak bank.
Kami hanya bisa pasrah demi kelangsungan usaha sahabat kami.
Ia lah yang telah membantuku mewujudkan berdirinya rumah ini. Dari membantu pelaksanaan konstruksinya hingga membantu finansial.
Yup, itung-itung "balas budi" atas apa yang telah ia berikan pada kami.
Kami percaya ia akan menggunakan dana tersebut sebaik mungkin terkait berbagai usaha yang dilakukannya.
Aku percaya ia pun akan berusaha untuk tidak ngemplang pembayaran cicilannya.
Yah, semoga saja apa yang kami lakukan tidak sia-sia. Dan usaha yang sedang dijalankan temanku itu berjalan dengan lancar.
Siapa tau aku bisa kebagian rezeki juga bila usahanya lancar hehehehe....
Penandatanganan dilakukan di rumah sahabatku dihadapan notaris dan pihak bank.
Kami hanya bisa pasrah demi kelangsungan usaha sahabat kami.
Ia lah yang telah membantuku mewujudkan berdirinya rumah ini. Dari membantu pelaksanaan konstruksinya hingga membantu finansial.
Yup, itung-itung "balas budi" atas apa yang telah ia berikan pada kami.
Kami percaya ia akan menggunakan dana tersebut sebaik mungkin terkait berbagai usaha yang dilakukannya.
Aku percaya ia pun akan berusaha untuk tidak ngemplang pembayaran cicilannya.
Yah, semoga saja apa yang kami lakukan tidak sia-sia. Dan usaha yang sedang dijalankan temanku itu berjalan dengan lancar.
Siapa tau aku bisa kebagian rezeki juga bila usahanya lancar hehehehe....
Langganan:
Postingan (Atom)





















